Gus. H. Rochmad Hidayat, S.H.: Menapaki Jalan Pulang Menuju Sang Hakiki

Hakikat Hidup Adalah Perjalanan Rahmat dan Kasih Sayang
JAKARTA, 09 JUNI 2026 – Keberadaan manusia di dunia ini pada hakikatnya hanyalah sebuah perjalanan rohani yang agung. Sebuah langkah sadar yang digariskan untuk kembali menuju asal mula segala kehidupan: Sang Pencipta, Sang Hakiki Mutlak. Perjalanan ini bukan sekadar perpindahan fisik dari satu tempat ke tempat lain, melainkan proses panjang penyucian jiwa, pemurnian niat, serta upaya menyatukan kembali hamba dengan Pencipta‑Nya.
Pandangan hidup yang penuh makna ini dikemukakan oleh Gus. H. Rochmad Hidayat, S.H., selaku Dewan Pembina sekaligus Pendiri Sahabat Rahmatan lil ‘Alamin. Dalam pemaparannya, ia mengajak setiap insan manusia untuk merenungi kembali tujuan utama keberadaannya di muka bumi ini.
Bagi Gus. H. Rochmad Hidayat, setiap jejak langkah yang diambil, setiap hembusan nafas yang keluar, dan segala amal perbuatan yang dilakukan, sejatinya merupakan ibadah sunyi yang memiliki satu tujuan tunggal: semakin mendekat, semakin menyatu, dan akhirnya kembali kepada‑Nya dalam wujud diri yang paling indah, bersih, dan diridhoi.
“Setiap jejak yang kita ukir, setiap nafas yang kita hembuskan, adalah bukti pengabdian kita untuk mendekat, menyatu, dan pulang kepada Sang Hakiki. Pulang dengan hati yang suci, pulang dengan cahaya keimanan yang senantiasa menyala,” ujarnya dengan penuh ketenangan dan keyakinan yang mendalam.
Rahmatan lil ‘Alamin: Satu‑satunya Jalan Menuju Kebenaran
Dalam kerangka pemikiran spiritual yang dianutnya, jalan menuju Sang Hakiki bukanlah jalan yang terjal atau penuh duri kebencian, demikian pula tidak diterangi cahaya yang menyilaukan mata. Sebaliknya, jalan itu terbentang luas, lembut, damai, dan diterangi oleh cahaya kasih sayang Ilahi, yaitu prinsip Rahmatan lil ‘Alamin. Nilai inilah yang menjadi poros utama dan kompas arah dalam setiap langkah kehidupan manusia.
“Perjalanan menuju Sang Hakiki tidak boleh melukai ciptaan‑Nya. Siapa yang berniat pulang kepada Pemilik Segala Sesuatu, ia wajib membawa bekal berupa kasih sayang, kelembutan, dan manfaat bagi seluruh alam semesta. Karena pada hakikatnya, rahmat adalah jembatan suci yang menghubungkan hamba dengan Tuhannya,” tegas Gus. H. Rochmad Hidayat mengingatkan.
Ia kemudian menegaskan sebuah kebenaran mutlak yang menjadi landasan utama ajaran yang dibawanya:
“Kita tidak akan pernah sampai kepada Allah jika di sepanjang perjalanan kita masih meninggalkan jejak ketidaksempurnaan. Kita tidak mungkin bisa mendekat kepada Sang Maha Kasih, jika cara yang kita tempuh justru menyakiti makhluk‑Nya.”
Nilai Rahmatan lil ‘Alamin mengandung makna yang sangat luhur: ketinggian derajat seseorang di sisi Tuhan tidak diukur dari seberapa jauh ia memisahkan diri dari dunia, melainkan seberapa besar kehadiran dirinya menjadi berkah, kedamaian, dan solusi bagi kehidupan di dunia ini.
“Rahmat adalah sifat asli Sang Hakiki. Maka, barangsiapa ingin menyerupai dan mendekat kepada‑Nya, ia wajib mewujudkan sifat itu dalam setiap sikap dan perilaku. Menjadi rahmat berarti kebaikan kita meluas, tak terbatas pada satu golongan atau keyakinan tertentu saja, melainkan meliputi seluruh makhluk hidup dan alam semesta sebagai wujud cinta kasih kita kepada Penciptanya,” jelas pendiri Sahabat Rahmatan lil ‘Alamin ini.
Makna Hakiki Rahmatan lil ‘Alamin dalam Diri Manusia
Bagi Gus. H. Rochmad Hidayat, nilai luhur ini mengajarkan pemahaman mendalam tentang posisi manusia di hadapan Tuhan dan alam semesta, yang dapat dirangkum dalam tiga makna utama:
Menyerupai Sifat Sang Hakiki
Rahmat adalah sifat mutlak Allah Yang Maha Kuasa. Oleh karena itu, perjalanan spiritual sejati adalah upaya nyata untuk menampakkan sifat‑sifat luhur Ilahi di dalam diri kita. Menjadi penyayang, pemaaf, dan penuh kasih adalah cerminan keimanan yang sesungguhnya. Semakin kita mampu menebarkan sifat rahmat, semakin berharga dan mulia kedudukan kita di sisi‑Nya.
Menjadi Berkah Bagi Seluruh Alam
Makna sesungguhnya dari Rahmatan lil ‘Alamin adalah menjadi berkah bagi semesta alam. Kebaikan yang kita tebarkan tidak boleh hanya terbatas pada lingkaran kecil di sekitar kita saja, melainkan harus meluas hingga menyentuh seluruh kehidupan. Menjadi manusia yang kehadirannya menyejukkan, memberi manfaat, dan menjaga keseimbangan alam, adalah bukti ketundukan dan rasa cinta kita kepada Sang Pemilik Alam Semesta.
Mewujudkan Manusia yang Semakin Sempurna
Tujuan akhir dari perjalanan hidup ini adalah penyucian diri. Semakin seseorang mampu menebarkan rahmat, semakin ia menjadi manusia yang sempurna akhlaknya, semakin mulia budinya, dan semakin kuat cerminannya dalam memantulkan sifat‑sifat keagungan Ilahi yang Maha Rahmat.
Jejak Langkah Menuju Penyatuan dengan Sang Hakiki
Untuk sampai ke tujuan akhir yang mulia ini, Gus. H. Rochmad Hidayat merumuskan tahapan langkah yang menyatukan hubungan vertikal manusia dengan Tuhan, dan hubungan horizontal manusia dengan makhluk serta alam, sebagai panduan hidup yang lengkap dan utuh.
1. Menemukan Hakikat Diri: Penyucian Hati Sebagai Awal Segala Langkah
Langkah pertama dan paling mendasar adalah kesadaran mutlak bahwa diri ini hanyalah titipan semata. Kita tidak memiliki apa‑apa, dan tujuan akhir kita hanya kepada‑Nya. Tahap ini menuntut kita untuk membersihkan hati dari segala sifat buruk, keangkuhan, dan keterikatan berlebih pada dunia. Menyadari hakikat diri berarti meletakkan Allah sebagai tujuan tunggal di balik setiap niat dan perbuatan yang kita lakukan.
2. Menyebarkan Rahmat: Menjadi Sumber Kedamaian dan Manfaat
Setelah hati bersih dari kepentingan semu, langkah selanjutnya adalah mewujudkan kasih sayang itu dalam tindakan nyata. Jadikanlah setiap kata yang terucap, setiap perbuatan yang dilakukan, dan keberadaan diri ini secara utuh sebagai sumber kebaikan bagi sekitar. Jadilah obat bagi yang sakit, penerang bagi yang gelap, dan penyejuk bagi yang sedang gundah. Menyebarkan rahmat adalah ibadah nyata yang paling dicintai oleh Allah SWT.
3. Menyatu dengan Alam: Menghormati Ciptaan Sebagai Cermin Pencipta
Alam semesta ini adalah ayat dan bukti nyata kebesaran Sang Hakiki. Mencintai Allah berarti pula mencintai, merawat, dan menjaga kelestarian ciptaan‑Nya. Merawat alam, menjaga keseimbangan ekosistem, dan tidak merusak lingkungan adalah bentuk ibadah tertinggi. Di dalam setiap butir debu dan setiap hembusan angin terdapat kebesaran Tuhan yang wajib kita hormati dan jaga sebagai amanah Ilahi yang dipercayakan kepada kita.
4. Pasrah dan Cinta: Melangkah dengan Penuh Keterikatan Ruhani
Langkah puncak dari perjalanan ini adalah menyerahkan sepenuhnya diri dalam kasih dan cinta kepada Sang Pencipta. Melangkah bukan semata‑mata karena rasa takut akan hukuman, melainkan didorong oleh rasa cinta yang mendalam dan kerinduan yang kuat untuk bertemu‑Nya. Menyadari bahwa segala ketentuan dan takdir yang ditetapkan‑Nya adalah kebaikan mutlak. Pasrah di sini adalah puncak keyakinan: bahwa Sang Hakiki adalah sumber segala kasih, dan pulang kepada‑Nya adalah kebahagiaan abadi yang sejati.
“Perjalanan menuju Sang Hakiki sejatinya adalah perjalanan mengubah diri agar layak dipersatukan kembali dengan keagungan‑Nya. Semakin kita memancarkan rahmat, semakin dekat kita kepada asal kita. Semakin kita menjadi berkah bagi alam semesta, semakin kita merasakan nikmatnya hidup dalam naungan kasih sayang Ilahi,” pungkasnya.
Sebagai penutup, ia memberikan pesan mendalam yang menjadi inti dari seluruh ajaran yang dibawanya:
“Menuju Sang Hakiki bukanlah perjalanan menjauh dari alam, melainkan perjalanan menjadikan diri ini rahmat bagi alam. Hingga pada akhirnya, rahmat itulah sendiri yang akan memandu kita pulang kembali ke Sang Pemilik Segala Rahmat.”
Melalui pemahaman yang luhur ini, Sahabat Rahmatan lil ‘Alamin yang dipimpinnya terus mengajak seluruh lapisan masyarakat untuk hidup lebih bermakna, berkarakter luhur, dan senantiasa membawa kebaikan serta kedamaian bagi sesama, sebagai wujud nyata kecintaan kita kepada Sang Hakiki.
(red)