Gus. H. Rochmad Hidayat, S.H.: Papar Hakikat, Cara Meraih Takwa, serta Kedudukan Taqorub, Waro’i, dan Tawadu dalam Kehidupan

Kajian Rutin Sahabat RLA Digelar Hibrida, Dihadiri Unsur Pemerintah dan Tokoh Agama
JAKARTA TIMUR, 12 JUNI 2026 – Suasana penuh ketenangan dan keberkahan kembali menyelimuti Markas Besar Sahabat Rahmatan Lil Alamin, yang beralamat di Jalan Mulya Jaya Nomor 9A, Cipinang, Jatinegara, Jakarta Timur. Pada Jumat (12/06/2026) tepat pukul 20.00 WIB, kegiatan kajian rutin pekanan kembali digelar dengan konsep hibrida: tatap muka di lokasi dan penayangan langsung lewat jaringan maya. Acara ini disambut antusias, dihadiri jamaah dari berbagai kalangan, unsur pimpinan instansi pemerintah, serta tokoh agama dan ulama yang hadir maupun bergabung dari jauh.
Sebagai pembimbing utama, Gus. H. Rochmad Hidayat, S.H. selaku Dewan Pendiri sekaligus Dewan Penasehat Sahabat Rahmatan Lil Alamin, memandu diskusi mendalam dengan mengupas materi pokok dari panduan organisasi tersebut. Tema yang diusung sangat mendasar dan menyentuh inti ajaran Islam, yaitu: Takwa Kepada Allah SWT: Hakikat, Tingkatan, Ciri, dan Langkah Konkret Mencapainya.
Pemaparan dilakukan secara runtut, mulai dari makna bahasa dan istilah, landasan dalil Al‑Qur’an dan Hadis, konsep mendekatkan diri lewat Taqorub, tingkatan kehati‑hatian bernama Waro’i, hingga buah ketakwaan berupa sifat Tawadu, semuanya dibahas agar mudah dipahami dan diterapkan dalam kehidupan sehari‑hari.
Hakikat Takwa: Menjaga Diri dari Segala yang Tidak Diridai Allah
Gus. H. Rochmad Hidayat membuka sesi dengan menanamkan pemahaman yang benar mengenai makna takwa agar tidak terjadi kekeliruan.
“Ditinjau dari asal katanya, Takwa berasal dari kata waqa yang berarti menjaga, melindungi, dan menahan diri. Gambaran sederhananya seperti seseorang yang berjalan di jalan yang penuh duri; ia akan sangat berhati‑hati, menahan pakaiannya agar tidak tersangkut, dan mengatur langkah kakinya agar tidak terluka. Itulah gambaran menjaga diri dari bahaya,” jelasnya dengan bahasa yang mudah dipahami.
Lebih jauh diuraikan maknanya dalam cakupan syariat: “Secara agama, takwa berarti menahan diri dan memagar jiwa dari segala perbuatan, ucapan, maupun keinginan yang dibenci Allah, dengan cara senantiasa menjalankan segala perintah‑Nya dan menjauhi segala larangan‑Nya. Semua itu dilakukan karena kesadaran penuh akan kebesaran Allah, rasa cinta, dan rasa hormat yang mendalam kepada‑Nya.” Beliau menegaskan, takwa bukan sekadar rasa takut di dalam hati, melainkan perwujudan sikap hidup yang nyata dan konsisten.
Langkah Konkret: Bagaimana Cara Meraih dan Memiliki Takwa?
Bagian yang paling ditunggu dan menjadi fokus utama peserta adalah panduan praktis bagaimana cara membentuk, menumbuhkan, dan memiliki sifat takwa yang sejati. Gus Rochmad menegaskan bahwa ketakwaan bukanlah anugerah yang jatuh dari langit tanpa usaha, melainkan hasil dari proses belajar, melatih diri, dan membersihkan hati secara berkelanjutan. Berikut uraian lengkapnya:
1. Bangun Dasar: Kenali Allah Melalui Taqorub
“Takwa tidak akan bisa tumbuh dan kokoh di hati yang kosong dari pengetahuan tentang Tuhannya. Langkah pertama dan paling utama adalah melakukan Taqorub, yaitu mendekatkan diri kepada Allah lewat pengenalan yang mendalam akan Dzat, Sifat, dan Perbuatan‑Nya,” tegas Gus Rochmad.
Beliau memberikan ilustrasi, seseorang tidak akan takut melanggar aturan jika ia tidak tahu siapa pembuat aturan itu, seberapa besar kuasanya, dan apa akibatnya jika melanggar. “Pelajari dan renungkanlah: Allah Maha Mengetahui apa yang tersembunyi, Maha Mengawasi setiap gerak‑gerik, Maha Memberi Balasan, dan Maha Menghukum. Semakin engkau kenal kebesaran‑Nya, semakin hatimu tunduk, dan semakin ringan bagimu untuk menaati‑Nya. Sesuai firman Allah dalam Surah Az‑Zumar ayat 9: Hanya orang yang berilmu dan mengenal Allah yang benar‑benar takut kepada‑Nya.”
2. Ikuti Jejak dan Teladan Rasulullah SAW
“Jalan menuju kesempurnaan takwa yang paling lurus, paling aman, dan paling terjamin kebenarannya adalah dengan mengikuti sepenuhnya ajaran, sunnah, dan akhlak Rasulullah SAW. Beliaulah manusia paling bertakwa, dan syariat yang dibawanya adalah petunjuk langsung dari Allah,” ujarnya.
Setiap perkataan, tindakan, dan kebiasaan Nabi adalah contoh nyata ketakwaan. “Lihatlah bagaimana beliau beribadah dengan khusyuk, bagaimana beliau menjauhi hal yang haram dan syubhat, bagaimana beliau bersikap lembut pada sesama. Ikuti jejak langkahnya, niscaya engkau akan sampai ke puncak takwa, sebagaimana janji Allah dalam Surah Ali Imran ayat 31: Barang siapa mengikuti Nabi, maka Allah akan mencintainya dan mengampuni dosa‑dosanya.”
3. Terapkan dalam Perbuatan: Jalankan Perintah, Tinggalkan Larangan
“Ilmu dan teori saja tidak cukup jika tidak dibuktikan lewat amal nyata. Cara kedua adalah membiasakan diri untuk menjalankan apa yang diperintahkan Allah dan menjauhi apa yang dilarang‑Nya, baik itu urusan besar maupun hal‑hal yang dianggap kecil,” jelas Gus Rochmad.
Mulailah dari hal yang paling dekat dan mudah dilakukan: perbaiki kualitas salat, jaga keutuhan puasa, tunaikan zakat, dan bersihkan diri dari dosa‑dosa. “Pada awalnya mungkin terasa berat atau sulit, namun jika terus dilatih dan dibiasakan, ketaatan itu perlahan‑lahan akan berubah menjadi kebutuhan jiwa. Ingatlah firman Allah di Surah At‑Taghabun ayat 16: Bertakwalah kamu kepada Allah sesuai kemampuanmu. Lakukan apa yang ada di daya mu, nanti Allah akan memberi kemudahan dan mengangkat derajatmu.”
4. Tingkatkan Kualitas: Miliki Sifat Waro’i
“Tanda ketakwaan yang sudah mencapai tingkat tinggi dan sempurna adalah hadirnya sifat Waro’i, yaitu sikap berhati‑hati yang sangat teliti dan waspada. Artinya tidak hanya berhenti pada batas menjauhi yang haram, tetapi juga menjauhi hal yang syubhat atau meragukan, bahkan meninggalkan hal yang diperbolehkan jika dikhawatirkan menjerumuskan ke hal yang dilarang atau melalaikan kewajiban,” paparnya.
Hal ini sejalan dengan sabda Rasulullah SAW: “Tinggalkanlah apa yang menimbulkan keraguanmu dan ambillah apa yang jelas kebenarannya.” Gus Rochmad menambahkan, “Dengan Waro’i, seseorang membangun pagar yang sangat tinggi agar dosa tidak bisa mendekat. Jaga makanan dan minumanmu, jaga ucapanmu, jaga pandanganmu. Semakin tinggi Waro’i seseorang, semakin kokoh benteng ketakwaannya.”
5. Bersihkan Wadah: Hilangkan Sifat Tercela di Hati
“Takwa tumbuh subur dan indah hanya di hati yang bersih. Maka cara mencapainya adalah dengan membersihkan hati dari penyakit‑penyakit rohani: sombong, iri hati, dengki, riya, terlalu cinta dunia, dan enggan menerima kebenaran,” tegasnya.
Bagaimana mungkin hati bisa takut dan patuh kepada Allah jika hatinya penuh kesombongan atau jika seluruh cintanya hanya tertuju pada harta dan jabatan? “Bersihkanlah hatimu dengan banyak berzikir mengingat Allah, merenungkan kematian, dan mengevaluasi diri setiap hari. Hati yang lembut, yang selalu ingat akan akhirat, itulah tanah yang paling subur bagi takwa untuk tumbuh dan berkembang.”
6. Memohon Karunia: Berdoa dan Minta Pertolongan Allah
“Segala usaha, latihan, dan ilmu manusia tidak akan sempurna dan berhasil tanpa pertolongan dan karunia Allah. Maka langkah yang paling ampuh dan tidak boleh ditinggalkan adalah senantiasa berdoa, beristighfar, dan memohon agar Allah mengaruniakan hati yang bertakwa,” pesan Gus Rochmad.
Beliau menganjurkan untuk mengamalkan doa yang sering dibaca Rasulullah SAW: “Ya Muqollibal qulub tsabbit qolbi ‘ala dinik” yang artinya: Wahai Dzat yang membolak‑balikkan hati, teguhkanlah hatiku di atas agama‑Mu. “Berusahalah sekuat tenaga, namun tetaplah berdoa dengan rendah hati, karena hanya Allah yang berhak memberikan taufik dan hidayah,” tambahnya.
7. Pelihara dengan Muhasabah dan Renungan
“Terakhir, jagalah hati agar tetap bertakwa dengan terus menerus mengingat Allah, membaca dan merenungkan Al‑Qur’an, serta melakukan perhitungan diri atau muhasabah setiap hari. Tanyalah pada diri sendiri: apa yang sudah saya lakukan hari ini? Apakah perbuatan itu mendekatkan diri atau menjauhkan saya dari Allah?”
Orang yang ingin bertakwa tidak akan membiarkan harinya berlalu begitu saja tanpa perbaikan diri. “Semakin sering engkau merenungi kebesaran Allah, nikmat‑Nya yang tak terhitung, serta ancaman azab‑Nya, semakin hidup rasa takut dan cinta di hatimu, dan semakin kokohlah takwamu sampai akhir hayat,” pungkasnya.
Taqorub: Pondasi Utama Hubungan Hamba dengan Tuhan
Gus Rochmad kembali menekankan makna Taqorub sebagai fondasi utama. Bagi orang yang melakukan Taqorub, mengenal Allah bukan hanya sekadar mengetahui nama‑Nya, tetapi menyadari kehadiran Allah di setiap detik kehidupan.
“Taqorub adalah kondisi hati yang merasa dekat dengan Allah. Ia melihat tanda kebesaran Allah di setiap sudut alam semesta, merasakan kehadiran‑Nya dalam setiap hembusan nafas, dan sadar sepenuhnya bahwa kuasa Allah mengatur segala sesuatu. Ketika pengenalan itu mendalam dan nyata, maka takwa akan lahir secara alami, karena ia tahu persis kepada siapa ia akan kembali dan kepada siapa ia akan mempertanggungjawabkan segala perbuatan,” jelasnya.
Dikutipnya perkataan para ulama terdahulu: “Barang siapa benar‑benar mengenal Tuhannya, niscaya ia akan bertakwa kepada‑Nya. Dan orang yang paling dalam dan sempurna pengenalannya kepada Allah, dialah yang paling tinggi derajat ketakwaannya.”
Warao’i: Benteng Pengaman Keimanan
Lebih jauh dibahas mengenai Waro’i sebagai tingkatan di atas sekadar batas halal dan haram. Waro’i adalah kehati‑hatian luar biasa yang menjaga iman agar tetap suci, bersih, dan jauh dari cela.
“Jika takwa diibaratkan menjauhi jurang dosa, maka Waro’i adalah menjauhi jalan atau tikungan yang mendekati jurang itu. Orang yang memiliki Waro’i akan meninggalkan hal yang tidak berdosa demi mencegah diri jatuh ke hal yang berdosa. Ia sangat teliti dalam mencari rezeki, sangat berhati‑hati dalam bertutur kata, dan sangat waspada dalam bergaul. Inilah bukti kesempurnaan iman dan buah dari pengenalan mendalam kepada Allah,” ujar Gus Rochmad.
Tawadu: Buah Nyata dan Cermin Ketakwaan
Hasil paling nyata dan terlihat dari takwa yang tumbuh lewat Taqorub dan dijaga ketat oleh Waro’i adalah munculnya sifat Tawadu atau kerendahan hati yang sejati.
“Takwa sejati dan kesombongan adalah dua hal yang bertolak belakang dan tidak mungkin bersatu dalam satu hati. Semakin seseorang bertakwa, semakin ia mengenal kebesaran Allah, semakin ia sadar betapa kecil, lemah, dan terbatas dirinya di hadapan keagungan‑Nya. Itulah hakikat Tawadu,” jelasnya dengan tenang.
Tawadu berarti merendahkan diri di hadapan Allah dan sesama makhluk, tanpa merendahkan harga diri sendiri. Ia sadar bahwa segala ilmu, jabatan, kekuatan, dan harta yang dimilikinya hanyalah titipan semata dari Allah. “Orang yang bertakwa tidak akan pernah memandang rendah orang lain, bahkan sering kali ia menganggap orang lain lebih baik dan lebih suci daripadanya. Inilah akhlak mulia para Nabi, para wali, dan orang‑orang yang diridai Allah,” tambahnya.
Ciri‑Ciri Utama Orang yang Bertakwa
Sebagai rangkuman materi, Gus Rochmad merinci kembali tanda‑tanda atau ciri khas orang yang memiliki takwa sejati, agar bisa dijadikan bahan cerminan dan koreksi diri:
1. Patuh pada perintah dan menjauhi larangan, dilakukan secara konsisten baik saat sendiri maupun saat dilihat orang lain, karena sadar selalu dilihat dan diawasi Allah.
2. Memiliki sifat Waro’i yang kuat, sangat berhati‑hati menjaga diri dari hal haram, hal yang syubhat, hingga hal yang diperbolehkan namun dikhawatirkan menjerumuskan.
3. Selalu mengingat Allah dalam setiap keadaan, ucapannya benar, jujur, lembut, dan jauh dari perkataan sia‑sia, dusta, atau menyakiti orang lain.
4. Hatinya rendah hati dan tidak sombong, penuh kasih sayang dan kebaikan pada siapa saja tanpa membeda‑bedakan status atau kedudukan.
5. Sangat menjaga amanah dan selalu menepati janji, apa yang diucapkan selalu sejalan dengan apa yang diperbuat.
6. Sabar dan tenang dalam segala keadaan, tidak mengeluh saat tertimpa musibah, dan tidak berlebihan atau sombong saat mendapat nikmat.
7. Gemar berbagi kebaikan dan berkorban, rela menyisihkan harta, tenaga, dan waktu untuk menolong sesama di waktu sulit maupun senang.
8. Selalu mengoreksi diri dan merasa kurang, tidak merasa paling benar, banyak beristighfar, dan terus berusaha memperbaiki diri hingga akhir hayat.
Hal ini sejalan dengan firman Allah dalam Surah Ali Imran ayat 133‑134 yang menyebutkan ciri utama orang bertakwa adalah yang bersegera berbuat kebaikan, menginfakkan harta, menahan amarah, dan memaafkan kesalahan orang lain.
Landasan Dalil Al‑Qur’an dan Hadis
Seluruh materi yang disampaikan dikokohkan dengan dalil yang kuat. Gus Rochmad mengingatkan kembali hadis sahih riwayat Imam Bukhari dan Muslim, saat Sahabat Umar bin Khattab RA bertanya mengenai makna hakiki takwa. Rasulullah SAW menjawab dengan perumpamaan yang sangat indah: “Takwa itu seperti orang yang berjalan di jalan yang banyak duri, ia menahan bajunya dan berjalan dengan sangat hati‑hati agar tidak tersangkut dan terluka.”
Tentang kedudukan Waro’i, beliau mengutip sabda Nabi SAW: “Tinggalkanlah apa yang membuatmu ragu dan ambillah apa yang tidak membuatmu ragu, karena hal itulah puncak kejujuran dan penjagaan diri.”
Mengenai sifat Tawadu atau kerendahan hati, Rasulullah bersabda: “Siapa yang merendahkan dirinya karena Allah, maka Allah akan mengangkat derajatnya dan menjadikannya orang yang mulia di hati manusia.”
Dan sebagai kesimpulan menyeluruh yang merangkum semua makna, beliau mengutip sabda Rasul riwayat Ibnu Majah: “Bertakwalah kepada Allah di mana pun engkau berada, milikilah sifat berhati‑hati yang tinggi, gantilah keburukan dengan kebaikan yang dapat menghapusnya, dan pergaulilah manusia dengan akhlak yang mulia serta penuh kerendahan hati.”
Penutup: Takwa Bekal Menuju Kehidupan Abadi
Di penghujung acara, Gus. H. Rochmad Hidayat mengingatkan kembali makna mendasar bahwa takwa adalah bekal satu‑satunya yang akan dibawa saat meninggal dunia dan bermanfaat di alam akhirat kelak.
“Takwa bukan sekadar istilah agama atau pengetahuan di kepala, melainkan jalan pulang kembali kepada Allah SWT. Ia terbentuk dari pengenalan kita yang mendalam pada Allah lewat Taqorub, dijaga ketat dengan sifat Waro’i, dan tampak nyata lewat sikap Tawadu serta perilaku mulia sehari‑hari. Caranya sudah sangat jelas: kenali Allah, ikuti jejak Rasul, jalankan perintah, jauhi larangan, bersihkan hati, dan mohonlah pertolongan‑Nya,” tutup beliau.
Doa penutup pun dipanjatkan agar seluruh peserta dikaruniai kemampuan untuk senantiasa bertakwa, menjadi pribadi yang bermanfaat, dan mampu menjadi rahmat bagi seluruh alam. Kajian rutin ini dijadwalkan kembali setiap malam Jumat pukul 20.00 WIB, terbuka untuk umum dan bisa diikuti secara luring maupun daring.
(redaksi)