Harga Diri Bukan Sekadar Gengsi, Integritas Diuji Saat Berani Mengakui Kesalahan
GADA HUKUM.COM
JAKARTA — Menjaga harga diri dan nama baik merupakan bagian penting dalam kehidupan sosial maupun profesional. Namun, mempertahankan martabat tidak selalu berarti harus membela diri tanpa batas. Ada kalanya, seseorang justru menunjukkan kehormatan sejatinya ketika berani berhenti, melihat ke dalam dirinya, dan mengakui jika terdapat kekeliruan.
Pandangan tersebut disampaikan Adv. Oki Prasetiawan, S.M., S.H., M.H., CLMA., CLA., yang menilai bahwa harga diri, integritas, dan kemampuan melakukan introspeksi merupakan tiga hal yang tidak dapat dipisahkan dalam membangun kehormatan seseorang.
Menurutnya, nama baik bukan sekadar citra yang dibangun di hadapan publik. Nama baik merupakan representasi dari perjalanan seseorang dalam menjaga prinsip, etika, tanggung jawab, serta konsistensi antara perkataan dan perbuatan.
Fiat justitia ruat caelum — tegakkan keadilan walaupun langit akan runtuh.
Namun, menurut Oki, prinsip tersebut juga perlu dimaknai lebih jauh. Keadilan tidak hanya diperlukan ketika berhadapan dengan orang lain, tetapi juga ketika seseorang menilai dirinya sendiri.
“Adil terhadap diri sendiri berarti berani melihat kekurangan, mengakui kesalahan, dan tidak membenarkan sesuatu hanya karena kepentingan ego,” ujarnya dalam pandangan reflektifnya.
Harga Diri Jangan Berubah Menjadi Ego
Dalam kehidupan sehari-hari, tidak sedikit orang yang menganggap mempertahankan pendapat sebagai bentuk menjaga harga diri. Ketika mendapat kritik, sebagian memilih melakukan pembelaan secara berlebihan karena khawatir dianggap lemah atau kehilangan wibawa.
Padahal, kata Oki, harga diri dan kesombongan memiliki batas yang jelas.
Harga diri lahir dari prinsip dan etika yang dijalankan secara konsisten. Sementara ego dapat membuat seseorang menolak kritik dan bahkan mempertahankan sesuatu yang keliru hanya demi mempertahankan citra sebagai pihak yang selalu benar.
Karena itu, menerima kritik tidak otomatis berarti kehilangan martabat. Sebaliknya, kemampuan mendengarkan dan mengevaluasi kritik dapat menjadi bagian dari proses membangun kedewasaan dan integritas.
Integritas Tidak Dibangun dengan Pencitraan
Oki berpandangan, reputasi yang kokoh tidak lahir dari pencitraan semata. Reputasi tumbuh melalui proses panjang yang mempertemukan nilai, ucapan, dan tindakan dalam satu garis yang konsisten.
“Integritas bukan tentang bagaimana seseorang terlihat baik di hadapan orang lain, tetapi bagaimana ia tetap memegang nilai yang benar dalam tindakan nyata,” jelasnya.
Dalam dunia hukum, prinsip tersebut menjadi semakin penting. Pengetahuan terhadap aturan dan kemampuan berargumentasi harus berjalan beriringan dengan tanggung jawab moral.
Sebab, profesi hukum tidak hanya berkaitan dengan kemampuan memahami norma, tetapi juga menyangkut kejujuran, tanggung jawab, keadilan, dan keberanian untuk menempatkan prinsip di atas kepentingan pribadi.
Introspeksi Adalah Bentuk Keberanian
Menurut Oki, mengkaji diri bukanlah bentuk kelemahan. Justru sebaliknya, introspeksi merupakan bentuk keberanian karena seseorang bersedia melakukan evaluasi terhadap dirinya sendiri secara jujur.
Pikiran, ucapan, maupun tindakan perlu sesekali diperiksa kembali. Apa yang sudah benar harus dipertahankan, sementara kekeliruan harus diperbaiki.
Kemampuan tersebut menjadi penting karena reputasi yang dibangun bertahun-tahun dapat terpengaruh oleh satu keputusan yang diambil tanpa pertimbangan matang.
“Reputasi dibangun puluhan tahun, tetapi dapat terganggu oleh satu keputusan yang didorong ego. Karena itu, mengkaji diri merupakan bagian dari manajemen risiko terhadap nama baik dan kepercayaan,” ungkapnya.
Martabat Dibangun dari Kejujuran terhadap Diri Sendiri
Lebih jauh, Oki menilai bahwa mawas diri merupakan salah satu bentuk penghormatan terhadap martabat pribadi.
Mengenali kemampuan diri tanpa kesombongan, menerima kekurangan tanpa merasa rendah, serta berani mengakui kesalahan merupakan sikap yang menunjukkan kedewasaan.
Dalam konteks tersebut, mempertahankan nama baik tidak harus selalu dilakukan dengan perlawanan. Ada saatnya nama baik justru dijaga melalui sikap tenang, klarifikasi yang proporsional, dan kesediaan melakukan evaluasi terhadap diri sendiri.
Pada akhirnya, seseorang tidak diukur hanya dari seberapa jarang ia melakukan kesalahan, tetapi juga dari bagaimana ia bersikap ketika menyadari adanya kesalahan.
Harga diri membutuhkan prinsip. Integritas membutuhkan konsistensi. Sedangkan kedewasaan membutuhkan keberanian untuk mengkaji diri.
Dengan demikian, menjaga martabat bukan berarti harus selalu terlihat benar. Menjaga martabat adalah keberanian untuk tetap jujur kepada diri sendiri, berdiri di atas prinsip, serta terus memperbaiki diri ketika menemukan sesuatu yang perlu dibenahi.
Redaksi