Oki Prasetiawan, S.M., S.H., M.H., CLMA: Pikiran Negatif Lebih Berbahaya daripada Ketakutan Mistis

GADA HUKUM.COM
SUKABUMI, 20 Juli 2026 – Kepercayaan terhadap santet, teluh, guna-guna, hingga gangguan makhluk halus masih menjadi bagian dari kehidupan sebagian masyarakat Indonesia. Tidak sedikit orang yang mengaitkan penyakit yang datang secara tiba-tiba dengan kekuatan gaib, sehingga memunculkan prasangka, ketakutan, bahkan konflik sosial akibat tuduhan kepada pihak lain.
Namun, menurut Oki Prasetiawan, S.M., S.H., M.H., CLMA, berbagai penelitian di bidang neurosains dan psikologi klinis menunjukkan bahwa banyak keluhan fisik yang dianggap sebagai “penyakit kiriman” justru berawal dari mekanisme biologis dan psikologis yang terjadi di dalam tubuh manusia sendiri.
Oki menjelaskan bahwa kondisi tersebut dikenal dalam dunia medis sebagai gangguan psikosomatik, yakni keadaan ketika tekanan psikologis, kecemasan, ketakutan, serta sugesti negatif memicu munculnya gejala fisik yang benar-benar nyata. Dengan kata lain, penderitaan yang dirasakan bukan sekadar perasaan, melainkan respons biologis yang dipengaruhi oleh cara kerja otak dan sistem saraf.
“Ketika seseorang terus-menerus meyakini dirinya menjadi korban santet atau gangguan gaib, otak akan membaca rasa takut tersebut sebagai ancaman serius. Kondisi itu memicu pelepasan hormon stres seperti kortisol dan adrenalin dalam jumlah besar sehingga memengaruhi berbagai fungsi tubuh,” ujar Oki.
Ia menerangkan bahwa kadar hormon stres yang tinggi dalam waktu lama membuat sistem saraf menjadi sangat sensitif. Akibatnya, berbagai sensasi tubuh yang sebenarnya normal dapat disalahartikan sebagai tanda adanya gangguan gaib. Kedutan otot, rasa merinding, jantung berdebar, hingga rasa sesak di dada kemudian dianggap sebagai bukti bahwa seseorang sedang terkena “penyakit kiriman”.
Menurutnya, persepsi tersebut justru memperkuat rasa takut yang akhirnya menciptakan siklus stres berkepanjangan. Dampaknya dapat berupa ketegangan otot, gangguan lambung akibat meningkatnya produksi asam lambung, tremor, sulit tidur, hingga menurunnya daya tahan tubuh.
Selain itu, Oki menjelaskan adanya dua fenomena psikologis yang turut memperburuk kondisi tersebut, yakni atensi selektif dan efek nocebo. Atensi selektif membuat seseorang hanya mencari berbagai kejadian yang dianggap mendukung keyakinannya terhadap hal mistis, sementara mengabaikan penjelasan yang lebih rasional.
Adapun efek nocebo merupakan kondisi ketika keyakinan negatif mampu memicu munculnya gejala penyakit yang sesungguhnya. Semakin kuat seseorang percaya dirinya terkena kutukan atau santet, semakin besar pula kemungkinan tubuh memberikan respons biologis yang memperparah kondisi kesehatannya.
Oki menegaskan bahwa menghormati nilai-nilai spiritual dan budaya merupakan hal yang penting. Namun demikian, menurutnya, setiap persoalan kesehatan tetap harus disikapi secara rasional dan berdasarkan ilmu pengetahuan.
“Keimanan dan spiritualitas tentu memiliki tempat tersendiri dalam kehidupan. Namun ketika mengalami gangguan kesehatan, langkah yang paling tepat adalah melakukan pemeriksaan kepada tenaga medis atau psikolog agar penyebabnya dapat diketahui secara objektif. Jangan sampai rasa takut justru menjadi faktor yang memperburuk kondisi tubuh kita sendiri,” tegasnya.
Di akhir keterangannya, Oki mengingatkan bahwa akal sehat, kemampuan mengelola stres, serta pemeriksaan medis merupakan benteng utama dalam menjaga kesehatan. Dengan memahami cara kerja pikiran dan sistem saraf, masyarakat diharapkan tidak mudah terjebak pada prasangka maupun ketakutan yang justru dapat merugikan diri sendiri maupun orang lain.
(Red)