PODCAST EDSHAREON: AI BISA BERHALUSINASI — JANGAN LANGSUNG PERCAYA, WAJIB DICEK ULANG!

Ir. Windy Gambetta ITB: Jawaban Cepat Belum Tentu Benar — Manusia Harus Tetap Menjadi Penentu Kebenaran
JAKARTA, 26 AGUSTUS 2026 — Kecerdasan buatan atau AI kini menjadi andalan jutaan orang untuk mencari jawaban, menyusun tulisan, hingga mengambil keputusan sehari-hari. Namun di balik kemudahannya, tersembunyi risiko yang sering tidak disadari: AI bisa saja salah, bahkan berhalusinasi — menyampaikan hal yang tidak benar dengan gaya yang sangat meyakinkan.
Hal ini diungkapkan oleh Ir. Windy Gambetta, M.B.A., Peneliti Pusat Artificial Intelligence Institut Teknologi Bandung (ITB), dalam wawancara eksklusif bersama Eddy Wijaya di Podcast EdShareOn — Eddy Sharing and Discussion. Windy mengingatkan masyarakat agar tidak menelan mentah-mentah setiap informasi yang dihasilkan oleh teknologi canggih tersebut.
FENOMENA ‘HALUSINASI’ AI: JAWABAN TEPAT, FAKTA KELIRU
Windy menjelaskan bahwa AI dirancang untuk memberikan jawaban yang relevan dan terlihat meyakinkan, bukan untuk memastikan kebenaran fakta. Akibatnya, sering terjadi apa yang disebut sebagai halusinasi — AI menyampaikan informasi yang tidak ada dasarnya, namun disusun dengan struktur yang sempurna dan bahasa yang lugas.
“AI adalah alat bantu, bukan sumber kebenaran. Ia bisa saja memberikan data yang salah, tanggal yang keliru, atau menyampaikan hal yang sebenarnya tidak terjadi — tetapi disampaikan dengan sangat yakin. Itulah yang paling berbahaya,” jelas Windy.
Oleh karena itu, setiap informasi yang berasal dari AI wajib diverifikasi ulang. Jangan karena jawabannya cepat dan rapi, lalu langsung dipercaya dan disebarkan.
PELUANG BESAR, TAPI RISIKO JUGA BESAR
Diskusi mendalam ini juga membahas keseimbangan antara manfaat dan risiko AI:
KEUNGGULAN YANG TAK TERBANTALKAN
– Mempercepat riset dan inovasi di berbagai bidang ilmu
– Membantu efisiensi kerja dan produktivitas industri
– Menjadi asisten cerdas dalam pendidikan, asalkan digunakan dengan arahan yang tepat
RISIKO YANG HARUS DIWASPADAI
– Menurunkan kemampuan berpikir kritis: Jika siswa hanya menunggu jawaban AI tanpa berusaha mencari tahu sendiri, kemampuan analisisnya akan menurun
– Mengubah lanskap pekerjaan: Otomatisasi akan menggantikan banyak tugas rutin — masyarakat harus siap meningkatkan keterampilan agar tetap relevan
– Penyebaran informasi palsu: AI memudahkan pembuatan konten rekayasa, hoaks, hingga video palsu (deepfake) yang sulit dibedakan dari aslinya
– Ketiadaan tanggung jawab: Jika AI salah, siapa yang bertanggung jawab? Ini adalah masalah etika yang masih harus terus diselesaikan
KUNCI: KENDALI DI TANGAN MANUSIA, BUKAN MESIN
Eddy Wijaya menekankan bahwa kemajuan teknologi tidak boleh membuat manusia menyerahkan kemampuan berpikirnya.
“AI diciptakan untuk membantu, bukan untuk menggantikan. Ia alat bantu, bukan pengganti akal budi kita. Selalu cek dan ricek sebelum mempercayai apa pun yang keluar dari sana,” ujar Eddy.
Windy Gambetta menutup dengan analogi yang sangat bermakna:
“AI itu seperti mobil balap. Semakin cepat mobilnya, semakin penting remnya. Orang yang tahu cara mengerem justru bisa melaju lebih aman dan lebih cepat. Begitu juga dengan AI — kita harus tahu batasannya, baru kita bisa memanfaatkannya secara maksimal.”
Eddy Wijaya menutup sesi dengan pesan yang selalu menjadi semangatnya:
“Sukses itu, hanya masalah waktu.” — Selama kita terus belajar, tetap kritis, dan tidak pernah menyerahkan kendali kepada mesin.
Tonton wawancara lengkapnya:
🔗 https://youtu.be/vZg86T3UfyA
Website resmi EdShareOn:
🔗 https://edshareon.com/
Salam Hormat,
Eddy Wijaya
EdShareOn — Eddy Sharing and Discussion