Oki Prasetiawan: Penyalahgunaan Kepercayaan Dapat Meruntuhkan Integritas dan Martabat
GADA HUKUM.COM
SUKABUMI — Kepercayaan dan ketulusan merupakan fondasi penting dalam membangun hubungan sosial maupun profesional. Namun, ketika kebaikan seseorang dimanfaatkan demi kepentingan pribadi, persoalan tersebut tidak hanya menyangkut etika, tetapi juga dapat merusak hubungan antarmanusia serta meruntuhkan nilai-nilai moral dalam kehidupan bermasyarakat.
Hal tersebut disampaikan Adv. Oki Prasetiawan, S.M., S.H., M.H., CLMA., CLA., pada Senin (12/10/2026). Ia menilai bahwa memanfaatkan kebaikan orang lain demi keuntungan sepihak merupakan perilaku yang perlu menjadi bahan introspeksi bersama.
Menurut Oki, keberhasilan seseorang semestinya dibangun melalui kejujuran, kerja keras, dan tanggung jawab, bukan dengan mengeksploitasi ketulusan atau mengabaikan kepercayaan yang telah diberikan orang lain.
Integritas Menjadi Tolok Ukur Kehormatan
Dalam kehidupan sosial maupun profesional, integritas merupakan salah satu modal utama untuk memperoleh penghormatan dan kepercayaan. Jabatan, popularitas, serta pencapaian materi tidak akan memiliki makna yang utuh apabila tidak diimbangi dengan kejujuran dan tanggung jawab moral.
Oki menegaskan, seseorang yang menjadikan kebaikan orang lain sebagai sarana untuk mencapai ambisi pribadi berisiko kehilangan kredibilitas yang telah dibangun selama bertahun-tahun.
“Kepercayaan tidak bisa dibeli dengan jabatan atau popularitas. Kepercayaan tumbuh dari kejujuran, sikap menghargai orang lain, serta kesediaan untuk bertanggung jawab atas setiap tindakan. Ketika ketulusan seseorang dimanfaatkan, yang dipertaruhkan bukan hanya hubungan personal, tetapi juga integritas diri,” ungkap Oki.
Ia menambahkan, kepentingan pribadi tidak seharusnya dijadikan alasan untuk mengabaikan etika. Terlebih bagi mereka yang menjalankan profesi dengan tanggung jawab publik, kejujuran dan konsistensi sikap merupakan prinsip yang harus senantiasa dijaga.
Kebaikan Semestinya Dibalas dengan Penghargaan
Dalam perspektif moral dan keagamaan, membantu sesama merupakan nilai luhur yang perlu dipelihara. Ketulusan tersebut semestinya disambut dengan rasa syukur dan penghargaan, bukan dijadikan kesempatan untuk memperoleh keuntungan secara sepihak.
Nilai ta’awun yakni semangat saling membantu dalam kebaikan, mengajarkan pentingnya membangun hubungan yang dilandasi kepedulian, tanggung jawab, dan niat baik.
Sebaliknya, memanfaatkan bantuan orang lain tanpa menghargai ketulusan pemberinya dapat merusak hubungan yang sebelumnya dibangun atas dasar kepercayaan. Setiap individu perlu memahami bahwa bantuan bukanlah kewajiban tanpa batas yang dapat dituntut sesuka hati.
Menurut Oki, sikap tahu berterima kasih dan kemampuan menghargai kontribusi orang lain merupakan cerminan kedewasaan karakter.
“Orang yang benar-benar memiliki integritas tidak akan menganggap kebaikan orang lain sebagai kesempatan untuk memperkuat kepentingannya sendiri. Ia justru akan menjaga kepercayaan tersebut dan berusaha membalasnya dengan sikap yang pantas,” tuturnya.
Hilangnya Kepercayaan Menimbulkan Kerugian Jangka Panjang
Dampak penyalahgunaan kepercayaan tidak selalu terlihat secara langsung. Kerugian yang lebih besar justru dapat muncul ketika orang-orang yang sebelumnya memberikan dukungan mulai menarik diri karena merasa ketulusan mereka tidak dihargai.
Kondisi tersebut berpotensi melemahkan kerja sama, mempersempit ruang kolaborasi, serta mengurangi kesempatan untuk membangun hubungan baru yang sehat dan saling menguntungkan.
Oki menyebut hilangnya kepercayaan sebagai salah satu konsekuensi serius dari perilaku yang mengabaikan etika dan tanggung jawab moral.
“Kerugian terbesar bukan semata-mata kehilangan materi, melainkan ketika orang lain tidak lagi percaya kepada kita. Harta mungkin dapat dicari kembali, tetapi memulihkan kepercayaan membutuhkan waktu, pembuktian, dan perubahan sikap yang nyata,” jelasnya.
Ia berpandangan, hubungan yang hanya dibangun berdasarkan kepentingan sesaat cenderung rapuh. Sebaliknya, hubungan yang dilandasi keterbukaan, penghargaan, dan tanggung jawab memiliki peluang lebih besar untuk bertahan dalam berbagai situasi.
Ketulusan Harus Diimbangi dengan Ketegasan
Oki juga mengingatkan bahwa menjaga integritas bukan berarti seseorang harus selalu menyetujui setiap permintaan atau mengorbankan kepentingan dirinya demi orang lain. Sikap peduli perlu diimbangi dengan kemampuan menetapkan batasan yang sehat.
Dalam hubungan sosial maupun profesional, terdapat perbedaan antara kerja sama yang saling mendukung dan hubungan yang hanya menguntungkan satu pihak.
Kerja sama yang sehat dibangun melalui komunikasi terbuka, penghargaan terhadap kontribusi, serta kesediaan menjalankan tanggung jawab masing-masing. Sebaliknya, hubungan yang tidak seimbang perlu dievaluasi apabila bantuan terus diminta tanpa adanya penghargaan, tanggung jawab, maupun itikad baik.
Karena itu, masyarakat perlu membangun sikap saling menghormati tanpa kehilangan ketegasan dalam melindungi hak dan martabat diri.
Menurut Oki, ketulusan tetap menjadi nilai penting dalam kehidupan. Namun, ketulusan juga harus disertai kebijaksanaan dalam menentukan kepada siapa kepercayaan diberikan serta bagaimana hubungan tersebut dijalankan.
Menjaga Moralitas demi Membangun Masyarakat yang Sehat
Pada akhirnya, kualitas kehidupan bermasyarakat tidak hanya ditentukan oleh pencapaian individu, tetapi juga oleh kemampuan setiap orang dalam menjaga kepercayaan dan menghargai kebaikan sesamanya.
Memanfaatkan ketulusan demi kepentingan pribadi mungkin terlihat menguntungkan dalam jangka pendek. Namun, apabila tindakan tersebut mengakibatkan hilangnya kepercayaan, dampaknya dapat meluas terhadap reputasi, hubungan sosial, serta peluang kerja sama pada masa mendatang.
Oki mengajak masyarakat menjadikan kejujuran, rasa syukur, dan tanggung jawab sebagai prinsip dalam setiap hubungan, baik di lingkungan keluarga, organisasi, dunia usaha, maupun profesi.
“Jangan jadikan kebaikan orang lain sebagai alat untuk mencapai tujuan pribadi. Hargai setiap bantuan, jaga kepercayaan yang diberikan, dan tunjukkan rasa terima kasih melalui tindakan nyata. Sebab, kehormatan seseorang tidak hanya terlihat dari apa yang berhasil diraihnya, tetapi juga dari bagaimana ia memperlakukan orang-orang yang pernah membantunya,” pungkas Oki.
Dengan menjunjung tinggi integritas dan etika, hubungan sosial diharapkan dapat tumbuh lebih sehat, saling menguatkan, serta memberikan manfaat bagi semua pihak.
Redaksi