Abuya Dr. KH. Aang Jejen Zaenudin Jelaskan Esensi Tasawuf dan Tarekat Qodiriyah Wanaqsabandiyyah

Sukabumi, 1 Juli 2026 – Ilmu tasawuf adalah jalan menuju kesucian, dan dzikir adalah kunci yang membukanya. Inilah inti perjalanan rohani yang diajarkan Abuya Dr. KH. Aang Jejen Zaenudin, berpijak pada warisan pemikiran luhur Imam Al-Ghazali, Imam Junaid Al-Baghdadi, serta jejak suci Madrasah dan Thariqah Syekh Abdul Qadir Al-Jailani. Bagi beliau, tujuan akhir bukan sekadar selamat, melainkan kembali menjadi cahaya yang memancarkan kebaikan.
Langkah Satu Per Satu Menuju Hati yang Bersih
Menempuh jalan tarekat dalam bimbingan ini dimulai dengan langkah yang teguh: pengikraran baiat kepada Syekh Mursyid yang masih hidup. Ini adalah perjanjian hati untuk setia, mengikatkan diri pada bimbingan guru agar langkah senantiasa lurus menuju Allah SWT.
Hati yang telah berjanji pun dipenuhi ilmu. Murid hadir dalam majelis untuk menerima ilmu riwayah, meneruskan mata rantai sanad yang suci. Di sana dikaji kitab-kitab tasawuf, panduan amal, serta tata cara dzikir yang benar. Ilmu pun tidak berhenti pada tulisan, melainkan dipahami makna hakikatnya melalui ilmu dirayah, mencerna rahasia istilah tarekat, dan menjadikan petunjuk guru sebagai sarana membersihkan sifat tercela serta membangun akhlak mulia.
Selanjutnya dibukalah jalan latihan nyata melalui kurikulum manhaj amaliyah, baik pokok maupun tambahan. Tingkatan demi tingkatan dilalui hingga sampai pada ijazah dzikir Laa ilaaha illallah, tujuh latifah, dua puluh muraqabah, serta penghormatan hirqah. Semua ditempa dengan niat tulus, membentuk jiwa yang senantiasa berkhidmat dan bermanfaat bagi sesama.
Mutabarohan: Jalan yang Mengalirkan Berkah
Di antara corak jalan yang ada, Abuya menegaskan keistimewaan hakiki dari Jalan Mutabarohan. Jika pada umumnya perjalanan rohani berpusat pada upaya menyempurnakan diri sendiri demi meraih ridha, maka jalan ini melangkah lebih jauh: diri disucikan agar layak menjadi tempat turunnya rahmat, yang kemudian mengalirkan kebaikan itu ke seluruh makhluk tanpa sekat.
Dzikir di sini pun telah menyatu dengan hidup. Ia bukan lagi sekadar gerakan lisan, melainkan kesadaran yang terpatri di hati. Dalam segala aktivitas, kehadiran Allah senantiasa dirasakan, sehingga setiap detik kehidupan menjadi ibadah yang berkelanjutan.
Begitu pula menghadapi ujian, jalan ini mengajarkan untuk memandangnya bukan sebagai beban yang berat, melainkan sarana penyucian yang mendewasakan jiwa. Kekuatannya pun tak datang semata dari usaha sendiri, melainkan didukung aliran berkah tak terputus dari doa dan kesucian para Waliyullah terdahulu.
Pada akhirnya, perbedaan itu tampak nyata: jalan lain membawa hamba pulang menghadap Tuhannya, sedangkan Jalan Mutabarohan menjadikan hamba itu sendiri sebagai mata air kebaikan, yang tak henti mengalirkan manfaat bagi siapa saja yang mendatanginya.
Renungan Penutup
“Carilah jalan yang sanadnya lurus, tempuhlah dengan ketulusan. Maka engkau tak hanya akan menemukan kedamaian, namun juga menjadi jembatan kasih sayang bagi sekalian alam,” demikian pesan yang ditinggalkan.(red)