Dr. KH. Another Hapin Nurgus, S.H., M.H., MBA: Hizbul Waqiah, Amalan Penolak Bencana dan Pembuka Pintu Rezeki

Rangkaian Doa Penuh Makna Ketauhidan, Perlindungan Mutlak, dan Permohonan Rezeki yang Tak Terduga
BOGOR, 31 MEI 2026 – Menjalani kehidupan di dunia ini tidak lepas dari berbagai ujian, tantangan, maupun ancaman musibah yang datang kapan saja. Oleh karena itu, umat Islam senantiasa dianjurkan untuk memperkuat hubungan spiritual dengan Sang Pencipta melalui ibadah, doa, dan amalan yang memiliki kedudukan istimewa dalam ajaran agama. Salah satu amalan yang dikenal luas memiliki keutamaan besar untuk menolak bahaya, memberikan perlindungan sempurna, serta melancarkan jalan rezeki adalah Hizbul Waqiah.
Menanggapi pentingnya amalan ini, ulama sekaligus praktisi hukum Islam, Dr. KH. Another Hapin Nurgus, S.H., M.H., MBA, menyampaikan penjelasan lengkap mengenai hakikat, makna mendalam, serta keistimewaan yang terkandung di dalamnya.
Hakikat dan Makna Hizbul Waqiah
Menurut Dr. Another Hapin, secara harfiah Hizbul Waqiah berarti “gugusan doa penolak bencana”. Amalan ini bukan sekadar rangkaian bacaan, melainkan kumpulan kalimat baik, pujian, serta permohonan yang disusun secara sistematis. Di dalamnya sarat akan nilai ketauhidan, pengakuan penuh akan kebesaran Allah SWT, permohonan perlindungan mutlak, serta harapan besar akan limpahan rahmat dan rezeki yang luas dari-Nya.
“Hizbul Waqiah adalah bentuk penghambaan yang dilakukan dengan kesadaran dan keyakinan yang utuh. Di dalamnya terdapat pengakuan bahwa segala kekuasaan hanya milik Allah, permohonan ampunan atas segala khilaf, permohonan dijauhkan dari segala keburukan, serta permohonan rezeki yang halal, berkah, dan datang dari jalan yang tidak pernah diduga sebelumnya,” ujar Dr. Another Hapin.
Beliau menambahkan, susunan bacaan ini diawali dengan Basmalah, kemudian dilanjutkan dengan pujian kepada Allah Yang Maha Tinggi, Maha Agung, Maha Pengampun, dan Maha Penyayang. Di dalamnya juga termuat permohonan agar Allah SWT melimpahkan rahmat dan salam kepada Nabi Muhammad SAW, serta permohonan agar dijauhkan dari segala bahaya, kesulitan, beban berat, dan gangguan dari makhluk manapun.
“Inti dari doa ini adalah penyerahan diri secara totalitas. Kita memohon perlindungan hanya kepada Allah, memohon agar pintu-pintu kebaikan, rahmat, dan rezeki dibukakan seluas-luasnya. Setiap kata dan kalimat yang ada di dalamnya dirancang untuk menyatukan hati hamba dengan Sang Pemilik Alam Semesta,” imbuhnya.
Keutamaan Luar Biasa dan Manfaat Nyata Bagi Kehidupan
Lebih lanjut, Dr. KH. Another Hapin Nurgus menjelaskan bahwa para ulama terdahulu telah mencatat berbagai keutamaan besar bagi siapa saja yang mengamalkannya dengan rutin, ikhlas, dan penuh keyakinan.
“Secara umum, keutamaannya adalah sebagai tameng penolak segala jenis bencana, musibah, dan kesulitan, baik yang tampak kasat mata maupun yang tersembunyi. Selain itu, amalan ini sangat ampuh untuk melancarkan rezeki, membuka jalan yang semula tertutup, menghapuskan berbagai hambatan hidup, serta menjauhkan diri dari gangguan orang jahat maupun makhluk halus,” paparnya.
Beliau menegaskan bahwa amalan ini terbuka dan boleh diamalkan oleh siapa saja, tanpa terkecuali. Baik mereka yang sedang menghadapi masalah berat, kesulitan ekonomi, merasa terancam, maupun mereka yang sekadar ingin memohon keselamatan, kebaikan, dan keberkahan dalam menjalani hari-hari.
“Perlu dipahami, rezeki itu tidak hanya berupa harta atau materi semata. Rezeki yang dimaksud juga mencakup kesehatan yang baik, keselamatan jiwa dan raga, ketenangan hati, kemudahan dalam segala urusan, serta perlindungan dari segala hal yang tidak diinginkan. Semua itu bisa diperoleh dengan izin Allah bagi mereka yang mengamalkannya dengan hati yang bersih dan yakin penuh,” tegasnya.
Tata Cara Pengamalan yang Sesuai dengan Syariat
Agar mendapatkan hasil yang maksimal dan sesuai tuntunan agama, Dr. Another Hapin menjabarkan tata cara pengamalannya yang telah menjadi pedoman di kalangan para ulama:
“Waktu yang paling utama untuk mengamalkannya adalah setiap pagi setelah salat Subuh dan sore hari setelah salat Ashar atau menjelang waktu Maghrib. Dapat dibaca sebanyak 3 kali, 7 kali, atau 41 kali setiap kali mengamalkannya. Bacalah dengan tartil, pahami makna yang terkandung, dan libatkan hati sepenuhnya agar permohonan tersebut sampai dan diterima di hadirat Allah SWT,” jelasnya.
Beliau juga mengingatkan agar setiap amalan dan doa yang dipanjatkan selalu diimbangi dengan usaha sungguh-sungguh serta akhlak yang mulia.
“Doa dan amalan adalah sarana untuk mendekatkan diri, namun harus disertai dengan ikhtiar maksimal serta menjauhi segala larangan Allah. Jangan berharap perlindungan dan kebaikan dari-Nya jika kita masih melanggar perintah-Nya. Keseimbangan antara doa, usaha nyata, dan akhlak yang terpuji adalah kunci utama agar segala permohonan kita dikabulkan,” pungkas Dr. KH. Another Hapin Nurgus, S.H., M.H., MBA.
(Redaksi)