Renungan “Sketsa Retakan di Balik Hakimku”: Belajar Mengenali Diri Sebelum Menghakimi Orang Lain
GADA HUKUM.COM
JAKARTA — Setiap manusia memiliki keterbatasan, kekurangan, dan ruang untuk terus belajar. Kesadaran itulah yang menjadi pesan utama dalam sebuah renungan berjudul “Sketsa Retakan di Balik Hakimku” yang disampaikan Adv. Oki Prasetiawan, S.M., S.H., M.H., CLMA., CLA.
Renungan tersebut mengajak setiap orang untuk lebih sering melihat ke dalam diri sebelum memberikan penilaian terhadap orang lain. Sebab, manusia kerap mudah melihat kesalahan di luar dirinya, namun lupa bahwa dirinya sendiri juga tidak luput dari kekurangan.
Dalam renungan itu, terdapat tiga hal penting yang menjadi bahan introspeksi, yakni sadar diri, mawas diri, dan koreksi diri.
Pada bagian sadar diri, manusia diajak memahami bahwa dirinya hanyalah manusia dengan segala keterbatasan. Mengakui bahwa tidak mengetahui segala hal dan memiliki kelemahan bukanlah sebuah kekalahan, melainkan bagian dari proses untuk terus belajar dan bertumbuh.
Sementara dalam mawas diri, setiap orang diingatkan untuk berhati-hati dalam menilai kehidupan orang lain. Apa yang terlihat dari luar belum tentu menggambarkan seluruh perjalanan seseorang. Di balik sebuah sikap atau keadaan, bisa saja terdapat perjuangan, luka, maupun persoalan yang tidak diketahui oleh orang lain.
Karena itu, sebelum mengucapkan kata-kata yang bernada penghakiman, seseorang perlu terlebih dahulu memeriksa prasangka dan egonya sendiri.
Adapun koreksi diri menjadi bagian penting berikutnya. Standar yang digunakan untuk menilai orang lain sering kali jauh lebih tinggi dibandingkan standar yang diterapkan kepada diri sendiri.
Padahal, masih banyak hal dalam diri yang perlu diperbaiki. Energi yang dimiliki seharusnya lebih banyak digunakan untuk membenahi diri daripada menentukan bagaimana orang lain harus bersikap.
Pesan tersebut mengingatkan bahwa perjalanan terjauh sekaligus paling mulia adalah perjalanan menuju diri sendiri. Ketika mata mulai sibuk mencari kesalahan di luar, hendaknya hati kembali diarahkan untuk bercermin dan melihat kekurangan yang ada di dalam diri.
“Kenalilah dirimu sendiri” menjadi pesan penutup yang menguatkan renungan tersebut. Sebuah pengingat bahwa sebelum menjadi hakim bagi orang lain, setiap manusia perlu terlebih dahulu menjadi penilai yang jujur bagi dirinya sendiri.
Dengan kesadaran, kewaspadaan, dan kemauan untuk terus memperbaiki diri, seseorang tidak hanya belajar memahami orang lain, tetapi juga belajar menjadi manusia yang lebih bijaksana dalam menjalani kehidupan.
Redaksi