DR. KH. ANOTHER HAPIN NURGUS: BERSERAH DIRI DAN BERDAMAI DENGAN DIRI ADALAH KUNCI KETENANGAN HAKIKI

Direktur Pengawasan Nasional ETH: Keseimbangan Antara Ikhtiar dan Penerimaan Menjawab Segala Kegelisahan Hidup
BOGOR, 06 JUNI 2026 – Di tengah dinamika kehidupan yang penuh tekanan, persaingan, dan ketidakpastian, ketenangan jiwa sering kali menjadi hal yang paling dicari namun sulit didapatkan. Banyak orang terjebak dalam kekalutan batin karena terlalu berambisi menguasai segala hal, namun lupa pada dua prinsip fundamental ajaran luhur: seni berserah diri dan kemampuan berdamai dengan diri sendiri.
Menyikapi fenomena kegelisahan yang meluas ini, Dr. KH. Another Hapin Nurgus, S.H., M.H., M.B.A. selaku Direktur Pengawasan Nasional Departemen Lintas Instansi Elang Tiga Hambalang (ETH), memberikan pandangan mendalam yang memadukan nilai spiritual, kearifan hidup, dan ketenangan psikologis. Menurutnya, ketenangan sejati tidak lahir dari kepemilikan harta atau kekuasaan, melainkan dari sikap batin yang tepat dalam menyikapi takdir dan keadaan diri sendiri.
“Banyak dari kita merasa gelisah, lelah, dan kecewa bukan karena apa yang terjadi, melainkan karena keinginan untuk menguasai apa yang sebenarnya bukan kuasa kita, serta penolakan terhadap apa yang sudah menjadi bagian dari diri dan kehidupan kita. Padahal, jika kita paham hakikat hidup, ketenangan itu sangat dekat, bahkan ada di dalam diri kita sendiri, tinggal bagaimana kita mengelolanya,” ungkap Dr. Another Hapin dalam keterangannya.
BERSERAH DIRI: BUKAN PASRAH, TAPI PUNCAK KESADARAN SPIRITUAL
Dalam pandangan religius dan kearifan yang dipegangnya, berserah diri sering kali disalahartikan sebagai sikap pasrah, menyerah begitu saja, atau tidak mau berusaha. Padahal, makna sejati berserah diri adalah tingkatan kesadaran tertinggi seorang hamba setelah melakukan segala upaya dan ikhtiar terbaiknya.
“Berserah diri itu posisinya ada di paling akhir. Manusia wajib berusaha, berikhtiar sekuat tenaga, berdoa sepenuh hati, dan berbuat sebaik mungkin. Setelah semua itu dilakukan, barulah datang tahap berserah diri, yaitu meyakinkan hati bahwa hasil akhirnya adalah wewenang mutlak Sang Pencipta. Apa pun yang keluar, itu adalah yang terbaik menurut-Nya. Di titik inilah beban berat di bahu kita akan hilang,” jelasnya.
Menurutnya, kegelisahan muncul karena manusia ingin hasilnya sesuai kehendak diri sendiri, bukan menerima apa yang menjadi kehendak Tuhan. Ketika seseorang mampu berserah diri dengan tulus, ia sedang melepaskan beban kendali yang sebenarnya bukan haknya, sehingga hati menjadi lapang dan damai.
“Ketika kita sadar bahwa kita hanya makhluk yang berusaha, dan Tuhanlah yang menentukan hasil, maka rasa cemas akan masa depan, rasa takut kehilangan, atau rasa sedih saat kegagalan akan jauh berkurang. Berserah diri adalah kunci agar hati tidak lagi dipenjara oleh ekspektasi yang tidak terpenuhi,” tambahnya.
BERDAMAI DENGAN DIRI: MENERIMA KEKURANGAN DAN MAAF ATAS KESALAHAN
Selain berserah diri kepada Sang Pencipta, Dr. Another Hapin menekankan pentingnya langkah mendasar yang sering dilupakan: berdamai dengan diri sendiri. Banyak orang menuntut kedamaian, namun di dalam hatinya ia terus menyalahkan dirinya sendiri, menyesali masa lalu, atau menolak kekurangan yang dimilikinya.
“Berdamai dengan diri adalah langkah menyembuhkan luka batin yang paling utama. Bagaimana kita bisa tenang, jika setiap hari kita memarahi diri sendiri karena kesalahan masa lalu? Bagaimana hati bisa damai jika kita terus menolak kenyataan bahwa kita punya kelebihan dan juga kekurangan? Berdamai dengan diri artinya berani melihat siapa diri kita sebenarnya, lalu menerimanya dengan ikhlas,” tegasnya.
Ia menjelaskan, berdamai dengan diri bukan berarti berhenti berbenah diri atau merasa puas begitu saja. Berdamai dengan diri adalah kemampuan memaafkan diri sendiri atas segala khilaf dan salah di masa lalu, menerima segala ketidaksempurnaan yang ada, lalu bertekad memperbaiki kualitas diri ke arah yang lebih baik di masa depan.
“Orang yang tidak berdamai dengan dirinya sendiri, ia akan terus bertikai dengan lingkungan dan keadaan. Ia tidak akan pernah puas, selalu merasa kurang, dan hatinya selalu resah. Sebaliknya, orang yang sudah berdamai dengan dirinya, ia akan hidup tenang, rendah hati, dan bijaksana dalam menghadapi segala cobaan,” urai tokoh yang dikenal memiliki pemahaman komprehensif ini.
SINERGI KEDUA KEKUATAN: PUNCAK KETENANGAN HAKIKI
Lebih jauh, Dr. Another Hapin menegaskan bahwa berserah diri dan berdamai dengan diri adalah dua sisi mata uang yang tidak bisa dipisahkan. Keduanya harus berjalan beriringan untuk mencapai ketenangan hidup yang sesungguhnya.
“Jika kita sudah berserah diri kepada Tuhan, tapi belum berdamai dengan diri sendiri, ketenangan itu belum sempurna. Begitu juga jika kita sudah berdamai dengan diri tapi belum berserah pada takdir, hati masih akan mudah goyah. Keduanya harus ada: berserah diri sebagai bentuk hubungan vertikal kita dengan Sang Pencipta, dan berdamai dengan diri sebagai bentuk hubungan horizontal kita dengan diri sendiri,” paparnya.
Dalam pandangannya, nilai-nilai ajaran agama dan luhur sejatinya mengajarkan hal ini. Agama hadir untuk mengajarkan manusia tunduk dan berserah pada ketentuan Ilahi, sekaligus mengajarkan manusia untuk menghargai, mencintai, dan memanusiakan dirinya sendiri secara wajar.
PANDANGAN UNTUK MASYARAKAT: KUNCI HIDUP YANG DAMAI
Di akhir pernyataannya, Dr. KH. Another Hapin Nurgus mengajak seluruh lapisan masyarakat, khususnya para pemangku kepentingan dan elemen bangsa, untuk mulai menerapkan prinsip ini dalam kehidupan sehari-hari. Di tengah hiruk-pikuk dunia yang serba cepat dan menuntut banyak hal, berhenti sejenak untuk menata hati menjadi kebutuhan mendesak.
“Jangan mencari ketenangan ke ujung dunia, karena ketenangan itu ada di dalam hati yang mampu berserah dan berdamai. Berserah diri membuat kita kuat karena bertumpu pada Sang Maha Kuasa, dan berdamai dengan diri membuat kita lapang karena tidak lagi bertikai dengan kenyataan. Ketenangan diri itulah yang akan menjadikan kita manusia yang bermanfaat, bijaksana, dan membawa kedamaian bagi orang lain di sekitar kita,” pungkasnya.
Pesan ini menjadi pengingat bahwa kemewahan terbesar dalam hidup bukanlah kekayaan atau kedudukan, melainkan ketenangan jiwa yang lahir dari keikhlasaan berserah diri dan kedamaian dalam berdamai dengan diri sendiri.
(Redaksi)