DR. TEGUH SUHARTO UTOMO, S.Psi., S.H., M.H., M.M., CTT.: MENJADI PEMBELA YANG BERHATI, MENJADI PEJUANG YANG BERWAWASAN

Wakil Ketua Umum DPN PERADI Harumkan Nama Bangsa: Kisah Advokat Nasional yang Juga Menjadi Maestro Bela Dunia
SURABAYA, 04 JUNI 2026 – Seorang anak kecil yang lahir dan besar di tengah kesejukan Kota Malang, tumbuh di gang-gang kecil yang mengajarkannya arti perjuangan dan kesederhanaan. Itulah awal perjalanan hidup Teguh Suharto Utomo, sebelum akhirnya merantau ke Surabaya untuk menuntut ilmu setinggi langit. Di kota inilah ia menimba berbagai disiplin keilmuan, mulai dari Psikologi, Hukum, Manajemen, hingga meraih gelar Doktor yang melengkapi deretan keahliannya.
Kini namanya tercatat lengkap dengan gelar akademik yang panjang dan membanggakan: Dr. Teguh Suharto Utomo, S.Psi., S.H., M.H., M.M., CTT. Namun di mata masyarakat, rekan sejawat, dan para klien yang dibelanya, ia lebih dikenal sebagai sosok pembela kebenaran yang tidak hanya mengandalkan pasal, tetapi juga selalu mendengarkan suara hati dan rasa keadilan.
AWAL MULA PENGABDIAN DAN JEJAK YANG MENJULANG
Tahun 2003 menjadi titik balik yang menentukan. Saat Undang-Undang Advokat Nomor 18 Tahun 2003 resmi disahkan, Teguh memulai langkah pertamanya sebagai Asisten Advokat. Sejak saat itu, lebih dari dua puluh tahun telah berlalu, dan namanya kini menjadi salah satu yang paling diperhitungkan di dunia hukum tanah air.
Jejak langkahnya tidak hanya terukir di Pulau Jawa. Ruang sidang di Medan, Batam, Tanjung Pinang, Pekanbaru, Jakarta, Banten, Semarang, Makassar, hingga pelosok Papua pernah menjadi saksi keteguhannya membela kebenaran. Pengalaman menjelajah seluruh pelosok negeri ini memberinya pemahaman mendalam: hukum tidak boleh kaku dan kering, ia harus hidup, tumbuh, dan sejalan dengan nurani masyarakat yang dilayaninya.
“Setiap daerah memiliki karakter dan cara pandang yang berbeda, namun rasa keadilannya satu. Saya belajar bahwa pasal hanyalah alat, sedangkan hati nurani adalah kompasnya,” ujarnya mengenang perjalanan panjangnya.
Kemampuan dan dedikasinya yang tak diragukan lagi membuatnya dipercaya memegang berbagai jabatan strategis. Ia pernah memimpin DPC KAI Surabaya periode 2008–2011, kemudian dipercaya mengemban amanah sebagai Ketua DPD Bali IPHI periode 2019–2025. Kini, puncak kepercayaan diembannya sebagai Wakil Ketua Umum Dewan Pimpinan Nasional PERADI 2026, mendampingi pimpinan pusat untuk memajukan dan menata kembali dunia advokasi di Indonesia.
SUARA KRITIS DEMI MEMULIHKAN MARWAH PROFESI
Di usia yang hampir menginjak setengah abad, Dr. Teguh justru semakin berani bersuara. Ia menyampaikan keprihatinan yang mendalam melihat kondisi persaingan di kalangan advokat yang belakangan ini dianggapnya kurang sehat dan cenderung merusak citra profesi.
“Sering kita lihat saling serang, saling menjatuhkan, bahkan saling menebar fitnah seolah itu sudah menjadi hal biasa. Padahal, kehormatan dan nama baik adalah modal utama kita. Tanpa itu, sehebat apa pun kita berbicara di depan hakim, tidak akan didengar dan dipercaya,” tegasnya.
Oleh sebab itu, ia mendorong terciptanya persatuan yang kokoh dan terbentuknya kepemimpinan organisasi yang berwibawa. Ia menginginkan adanya Dewan Advokat Nasional yang tegas dan adil dalam menjaga integritas seluruh anggotanya.
“Jangan sampai karena materi atau kepentingan sesaat, kita mudah dipecah belah. Advokat masa depan harus berpegang pada tiga hal mutlak: integritas yang tidak bisa dibeli, loyalitas pada kebenaran, dan profesionalitas yang tinggi. Selain itu, kita wajib saling menghormati sesuai kedudukan dan tanggung jawab masing-masing,” pesannya.
Bagi Dr. Teguh, menjadi advokat bukan sekadar pekerjaan mencari nafkah, melainkan sebuah panggilan jiwa dan amanah luhur. “Tugas kita adalah berdiri di sisi mereka yang lemah dan tidak berdaya, serta berani menegakkan kebenaran tanpa gentar menghadapi tekanan dari pihak mana pun,” tandasnya.
SOSOK DIBALIK MEJA HUKUM: GURU BESAR BELA DIRI BERKELAS DUNIA
Tidak banyak yang mengetahui bahwa di balik kesibukannya menangani perkara hukum, Dr. Teguh Suharto Utomo adalah seorang maestro seni bela diri yang namanya diakui secara internasional. Ia adalah praktisi Karate Kyokushin dengan tingkatan tertinggi, yaitu Hanshi (Dan-7) – gelar kehormatan yang hanya disematkan kepada guru besar yang telah mendedikasikan seluruh hidupnya untuk ilmu, latihan, dan penyebaran nilai-nilai luhur bela diri.
Berbagai amanah penting dipegangnya di kancah global maupun nasional:
– Sekretaris Jenderal International Budokai Union (I.B.U.) Kyodokyokushin, bekerja sama dengan tokoh dunia Kancho Maciej Misiak dari Polandia untuk mengembangkan aliran ini ke seluruh penjuru dunia.
– Ketua Kyodokyokushin Kawasan Asia Tenggara, memimpin pengembangan organisasi di wilayah ASEAN.
– Pendiri sekaligus Pimpinan Umum Akademi Seni Bertarung Kyokushin Indonesia (ASBKI), yang kini telah memiliki belasan tempat latihan atau dojo yang tersebar di berbagai daerah untuk mencetak generasi muda yang tangguh, sehat, dan berkarakter mulia.
Salah satu karya terbesarnya adalah langkah nyata untuk meruntuhkan tembok pemisah antar perguruan bela diri. Melalui kompetisi yang digagasnya dengan sistem Open Tournament, ia membuka kesempatan seluas-luasnya bagi praktisi dari berbagai aliran untuk bertemu dan berkompetisi dalam satu wadah. Karate, Pencak Silat, Taekwondo, Wushu, Jeet Kune Do, Jujitsu, Tinju, Muay Thai, hingga Kickboxing dapat bersaing secara sportif dan bersaudara. Tujuannya tunggal: menyatukan kekuatan bangsa melalui semangat kebersamaan.
Dr. Teguh Suharto Utomo adalah bukti hidup bahwa kesuksesan sejati adalah perpaduan antara kekuatan ilmu pengetahuan, keteguhan prinsip, serta kekuatan fisik yang diimbangi dengan budi pekerti luhur.
(Redaksi)