Jangan Mudah Menghakimi dari Penampilan, Oki Prasetiawan: Kemuliaan Seseorang Dinilai dari Hati dan Ketakwaannya

GADA HUKUM.
BANDUNG – Menilai seseorang hanya dari apa yang terlihat oleh mata merupakan sikap yang dapat menimbulkan kesalahpahaman dan ketidakadilan. Penampilan, status sosial, maupun kondisi lahiriah bukanlah ukuran hakiki untuk menentukan nilai seseorang di hadapan Allah SWT.
Hal tersebut disampaikan Oki Prasetiawan, S.M., S.H., M.H., CLMA, dalam sebuah renungan yang memadukan nilai-nilai Al-Qur’an, hadits Rasulullah SAW, serta ajaran luhur Suluk Wujil karya Sunan Bonang.
Menurut Oki Prasetiawan, pandangan manusia memiliki keterbatasan. Mata hanya mampu melihat apa yang tampak di permukaan, sementara isi hati, niat, dan amal seseorang hanya diketahui oleh Allah SWT.
“Mata hanya melihat kulit luar, tetapi tidak mampu menembus isi hati. Kita tidak pernah tahu siapa yang menyimpan keikhlasan dan amal saleh di balik kesederhanaannya, maupun siapa yang menyembunyikan niat buruk di balik kemewahan dan penampilan yang tampak sempurna,” ujarnya.
Ia mengingatkan bahwa Allah SWT telah menegaskan dalam Surah Al-Hujurat ayat 13 bahwa kemuliaan seseorang di sisi-Nya ditentukan oleh ketakwaan, bukan oleh rupa, kedudukan, ataupun harta benda. Hal itu juga dipertegas dalam hadits shahih riwayat Imam Muslim, di mana Rasulullah SAW bersabda bahwa Allah tidak memandang rupa maupun harta manusia, melainkan hati dan amal perbuatannya.
Oki menjelaskan, pesan tersebut selaras dengan ajaran dalam Suluk Wujil karya Sunan Bonang. Dalam karya tersebut dijelaskan bahwa segala sesuatu yang tampak di dunia hanyalah bayangan yang bersifat sementara. Yang memiliki nilai sejati adalah kebersihan hati, kelurusan niat, serta kedekatan seorang hamba kepada Sang Pencipta.
“Ajaran Sunan Bonang mengingatkan bahwa mengenal diri sendiri adalah jalan untuk mengenal Tuhan. Dari sanalah lahir kebijaksanaan agar manusia tidak mudah menghakimi sesamanya hanya berdasarkan apa yang terlihat,” katanya.
Ia juga mengajak masyarakat mengambil pelajaran dari kisah para tokoh mulia dalam sejarah Islam. Salah satunya adalah Julaibib radhiyallahu ‘anhu yang semasa hidupnya dipandang rendah oleh sebagian masyarakat, namun memiliki kedudukan yang sangat mulia di sisi Allah SWT dan Rasulullah SAW. Begitu pula Uwais Al-Qarni, sosok sederhana yang tidak dikenal luas di dunia, tetapi memiliki kemuliaan luar biasa karena ketulusan hati dan baktinya kepada orang tua.
Melalui renungan tersebut, Oki Prasetiawan mengajak setiap orang untuk menjaga lisan, memperbaiki prasangka, serta tidak terburu-buru memberikan penilaian terhadap orang lain.
“Hakikat seseorang tidak ditentukan oleh apa yang tampak hari ini, tetapi oleh keikhlasan hati, niat yang lurus, dan amal kebaikan yang ia lakukan sepanjang hidupnya. Karena itu, jangan pernah menjadikan mata sebagai satu-satunya hakim dalam menilai sesama manusia,” pungkasnya.
(Redaksi Renungan dan Nilai Keislaman)