Dr. K.H. ANOTHER HAPIN NURGUS, S.H., M.H., M.B.A.: PERJALANAN SPIRITUAL ADALAH USAHA MENGENAL SANG PENCIPTA, KUNCI KETENANGAN HIDUP

Mengenal Allah Bukan Hanya Lewat Ritual, Tapi Melalui Memahami Diri dan Seluruh Ciptaan-Nya
JAKARTA, 02 JUNI 2026 – Perjalanan spiritual atau pencarian makna hidup dan keberadaan sering kali menjadi pertanyaan besar yang menghantui manusia di segala usia. Di tengah hiruk-pikuk kehidupan duniawi yang semakin kompleks, kembali menyadari hakikat diri dan mengenal Sang Pencipta menjadi kebutuhan yang tak bisa ditawar.
Terkait hal tersebut, Dr. K.H. Another Hapin Nurgus, S.H., M.H., M.B.A. memberikan pandangan mendalam dan perspektif luas mengenai arti sebenarnya dari perjalanan spiritual. Sebagai tokoh agama sekaligus akademisi yang mumpuni, ia memaparkan bahwa mengenal Sang Pencipta bukanlah sekadar aktivitas ibadah rutin, melainkan sebuah proses panjang untuk memahami hakikat keberadaan diri, alam semesta, dan hubungan harmonis antara keduanya.
Mengenal Diri Adalah Kunci Utama Mengenal Tuhan
Menurut Dr. Another Hapin Nurgus, langkah awal dan paling fundamental dalam perjalanan spiritual adalah mengenal diri sendiri. Ia mengutip kaidah terkenal yang menjadi landasan pemikiran para ulama dan ahli makrifat: “Barangsiapa mengenal dirinya, maka ia akan mengenal Tuhannya.”
“Perjalanan menuju Sang Pencipta tidak harus selalu berjarak jauh atau ke tempat-tempat tertentu. Tempat memulainya ada di dalam diri kita sendiri. Ketika seseorang mulai sadar akan keterbatasannya, menyadari bahwa dirinya lemah, butuh pertolongan, dan tidak memiliki kekuatan apa pun selain apa yang diberikan, di situlah pintu pengenalan kepada Sang Pencipta mulai terbuka,” ungkap Dr. Another dalam percakapan khusus.
Ia menjelaskan bahwa mengenal Sang Pencipta berarti menyadari segala sifat kesempurnaan yang hanya milik-Nya. Manusia mengenal Allah melalui nama-nama dan sifat-sifat-Nya, melalui tanda-tanda kebesaran yang tersebar di seluruh penjuru alam semesta, hingga melalui kejadian-kejadian hidup yang menjadi pelajaran berharga.
“Mengenal Sang Pencipta bukan sekadar tahu nama-Nya atau paham definisi-Nya, tapi sampai pada taraf meyakini, merasakan, dan menghayati keberadaan-Nya dalam setiap detik kehidupan. Bahwa Dia Maha Melihat, Maha Mendengar, dan Maha Mengatur segala sesuatu dengan sangat sempurna,” tambahnya.
Dua Jalan Utama: Melalui Ciptaan dan Melalui Wahyu
Dalam paparannya, Dr. Another Hapin Nurgus membagi jalan mengenal Sang Pencipta menjadi dua jalur utama yang saling melengkapi, yaitu jalan alam semesta dan jalan petunjuk wahyu.
Pertama, melalui pengamatan terhadap alam semesta dan segala isinya. Keteraturan, keseimbangan, serta keajaiban yang ada di langit, di bumi, hingga ke dalam tubuh manusia sendiri adalah bukti nyata keberadaan dan kekuasaan Sang Pencipta.
“Lihatlah bagaimana matahari terbit dan terbenam dengan teratur, bagaimana air mengalir memberi kehidupan, bagaimana jantung manusia berdetak tanpa henti seumur hidup. Semua ini tidak terjadi secara kebetulan. Ada Zat Maha Kuasa yang mengatur semuanya dengan sangat presisi. Itulah cara alam berbicara kepada kita, mengajak untuk mengenal Penciptanya,” jelasnya.
Kedua, jalan mengenal melalui wahyu dan ajaran yang dibawa para utusan-Nya. Jalan ini memberikan penjelasan lengkap mengenai siapa Sang Pencipta, apa tujuan diciptakannya manusia, serta bagaimana cara yang benar untuk berhubungan dan berbakti kepada-Nya.
“Tanpa petunjuk wahyu, akal manusia akan terbatas dan mudah tersesat. Wahyu menjadi cahaya yang menerangi, menjelaskan hakikat yang tidak bisa dicapai oleh akal semata. Jadi, perjalanan spiritual yang sempurna adalah perpaduan antara penggunaan akal untuk melihat tanda-tanda kebesaran-Nya, serta mengikuti petunjuk wahyu agar tetap berada di jalan yang lurus,” tegasnya.
Tujuan Akhir: Menemukan Ketenangan dan Hidup Bermakna
Ditanya mengenai tujuan utama dari perjalanan spiritual ini, Dr. Another Hapin Nurgus menyatakan bahwa puncak dari seluruh proses mengenal Sang Pencipta adalah lahirnya ketenangan jiwa, kedamaian batin, serta kesadaran penuh dalam menjalani hidup.
“Seseorang yang sudah mengenal Penciptanya dengan benar, hatinya tidak akan gelisah dengan apa yang terjadi di dunia. Ia tidak akan terlalu sedih saat kehilangan, tidak pula terlalu sombong saat mendapatkan. Ia sadar bahwa segala sesuatu berasal dari Allah dan akan kembali kepada-Nya. Inilah tingkat ketenangan yang dicari oleh setiap orang,” ujarnya.
Lebih jauh ia mengingatkan, perjalanan ini tidak memiliki batas akhir. Semakin dalam seseorang mengenal Sang Pencipta, semakin ia menyadari betapa luasnya rahmat dan ilmu-Nya. Oleh karena itu, usaha mendekatkan diri dan meningkatkan kualitas pengenalan harus terus dilakukan seumur hidup.
“Jadikan setiap langkah hidup ini sebagai bagian dari ibadah dan usaha mengenal-Nya. Baik saat bekerja, bersosialisasi, maupun saat sendiri dalam kesendirian. Jika pengenalan itu tertanam kuat di hati, maka seluruh perilaku dan sikap hidup akan berubah menjadi lebih baik, lebih berbudi luhur, dan lebih bermanfaat bagi sesama,” pungkas Dr. K.H. Another Hapin Nurgus, S.H., M.H., M.B.A.
(Redaksi)